Dua Sisi Genius Diego Maradona: “Tangan Tuhan” dan Gol Abad Ini dalam 300 Detik

Dalam sejarah olahraga dunia, tidak ada satu pun pertandingan yang sanggup merangkum seluruh kompleksitas kepribadian seorang atlet selain laga perempat final Piala Dunia 1986 antara Argentina melawan Inggris.

Pada hari itu, di bawah terik matahari Stadion Azteca di Kota Meksiko, seorang pria bertubuh gempal bernama Diego Armando Maradona menunjukkan dua sisi ekstrem manusia dalam kurun waktu lima menit saja: seorang penipu yang licik, sekaligus seniman sepak bola paling genius yang pernah dilahirkan di bumi.

Laga ini bukan sekadar pertandingan sepak bola biasa. Pertandingan tersebut dipenuhi tensi politik yang sangat tinggi akibat Perang Falkland (Malvinas) antara Argentina dan Inggris empat tahun sebelumnya. Oleh karena itu, mari kita bedah kembali dua momen legendaris yang mengubah sejarah sepak bola dunia selamanya.

Dosa Berdarah “Tangan Tuhan” di Menit ke-51

Memasuki babak kedua dengan skor kacamata 0-0, sebuah insiden paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia terjadi pada menit ke-51.

Maradona menggiring bola di tengah lapangan sebelum memberikan umpan kepada rekannya, Jorge Valdano. Bek Inggris, Steve Hodge, berniat memotong bola tersebut. Namun, sapuan bolanya justru melambung tinggi secara tidak sengaja ke arah kotak penalti sendiri.

Kiper Inggris, Peter Shilton, yang bertubuh jangkung dengan tinggi 185 cm, melompat untuk meninju bola. Pada saat yang sama, Maradona yang hanya bertinggi badan 165 cm turut melompat menyambut bola udara tersebut. Menyadari ia tidak akan mampu memenangi duel udara menggunakan kepala, Maradona melakukan aksi nekat.

Ia menjangkau bola menggunakan kepalan tangan kirinya di dekat telinga, lalu menepis bola tersebut melewati kepala Peter Shilton. Bola meluncur pelan ke dalam gawang Inggris.

Para pemain Inggris berlari mengejar wasit asal Tunisia, Ali Bin Nasser, sambil menunjuk-nunjuk tangan mereka. Namun, wasit tidak melihat pelanggaran terselubung tersebut dan meresmikan gol bagi Argentina.

Dalam konferensi pers pascapertandingan yang sangat terkenal, Maradona memberikan jawaban yang menjadi istilah abadi hingga saat ini: “Gol itu tercetak sedikit oleh kepala Maradona, dan sedikit lagi oleh tangan Tuhan.”

Penebusan Dosa Lewat Gol Abad Ini di Menit ke-55

sumber STAFF / AFP via foxsports.com.au

Jika gol pertama lahir dari sebuah kecurangan yang licik, gol kedua Maradona yang tercipta hanya empat menit kemudian adalah mahakarya seni paling murni dalam dunia olahraga.

Pada menit ke-55, Maradona menerima umpan pendek dari Hector Enrique di area pertahanannya sendiri, sekitar 60 meter jauhnya dari gawang Inggris. Dalam waktu sepuluh detik berikutnya, sihir paling langka terjadi di depan puluhan ribu pasang mata.

Dengan kontrol bola yang sangat melekat di kaki kirinya, Maradona memutar badan dan melewati dua gelandang Inggris, Peter Beardsley dan Peter Reid. Ia kemudian melakukan akselerasi kilat menyisir sisi kanan lapangan, mengecoh Terry Butcher dengan perubahan arah yang mendadak, serta menipu Terry Fenwick di dekat kotak penalti.

Kiper Peter Shilton mencoba maju untuk menutup ruang tembak. Namun, dengan ketenangan luar biasa, Maradona melakukan gerakan tipuan yang membuat Shilton jatuh terduduk, sebelum akhirnya menceploskan bola ke gawang yang sudah kosong dari sudut sempit.

Maradona melewati lima pemain bertahan Inggris plus kiper mereka seorang diri. Pada tahun 2002, FIFA secara resmi memproklamirkan aksi solo run tersebut sebagai Gol Abad Ini (Goal of the Century).

Pahlawan Bangsa dan Simbol Perlawanan

Dua gol yang bertolak belakang tersebut merangkum siapa Diego Maradona yang sebenarnya. Di satu sisi, ia adalah pria yang menghalalkan segala cara untuk menang demi membalas dendam publik Argentina atas kekalahan Perang Falkland.

Di sisi lain, ia adalah penyihir bola yang tidak sanggup dihentikan oleh barisan pertahanan terbaik di dunia sekalipun.

Argentina akhirnya memenangi laga tersebut dengan skor 2-1 dan terus melaju hingga keluar sebagai juara dunia 1986. Komentator kenamaan asal Uruguay, Victor Hugo Morales, bahkan kehilangan kata-kata saat menyiarkan gol kedua Maradona hingga menangis terisak-isak di balik mikrofon: “Makhluk ajaib dari planet mana engkau berasal?”

Warisan yang Tak Tergantikan

Diego Maradona mungkin telah tiada, namun aksinya pada siang hari di Stadion Azteca itu akan tetap hidup selamanya. Ia mengajarkan kita bahwa sepak bola adalah perpaduan antara drama psikologis, emosi politik, dan keindahan teknik tingkat tinggi.

Dua gol dalam kurun waktu 300 detik tersebut menegaskan posisi Maradona bukan sekadar atlet biasa, melainkan ikon budaya yang melampaui batas-batas olahraga itu sendiri.

Bagaimana menurutmu?

Manakah yang lebih kamu ingat dari sosok Diego Maradona? Kontroversi “Tangan Tuhan” atau keindahan “Gol Abad Ini”? Tulis pendapatmu di kolom komentar!

Baca Juga: [Tragedi Kepala Babi: Pengkhianatan Luis Figo di El Clasico]

Tinggalkan komentar