Dalam dunia taruhan olahraga sebelum musim 2015/2016 dimulai, peluang Leicester City untuk menjuarai Liga Premier Inggris berada di angka 5.000 banding 1. Secara matematis, kemungkinan tersebut sama kecilnya dengan penemuan pendaratan alien di bumi atau Elvis Presley yang masih hidup.
Namun, di bawah asuhan pelatih gaek Claudio Ranieri, klub berjuluk The Foxes tersebut mengacak-acak peta kekuatan sepak bola modern dan mengukir kisah dongeng paling spektakuler sepanjang masa.
Dari Kandidat Degradasi Jadi Penguasa Inggris
Musim sebelumnya (2014/2015), Leicester menghabiskan mayoritas musim di dasar klasemen dan hampir terdegradasi ke kasta kedua. Ketika Claudio Ranieri ditunjuk menggantikan Nigel Pearson di musim panas 2015, publik dan media meragukan kapasitasnya.
Bahkan, target awal yang dipasang manajemen sangat sederhana: meraih 40 poin agar terhindar dari zona degradasi.
Namun, yang terjadi selanjutnya adalah sejarah. Leicester tampil konsisten dengan gaya permainan counter-attack kilat yang sangat mematikan. Tim-tim raksasa seperti Arsenal, Manchester City, hingga Chelsea dibuat tak berdaya menghadapi kolektivitas mereka.
Skuad Murah Meriah Berjiwa Bintang

Keajaiban Leicester City dibagun oleh deretan pemain yang sebelumnya tidak diperhitungkan oleh klub-klub besar:
- Jamie Vardy: Striker yang beberapa tahun sebelumnya masih bermain di liga amatir (non-league) sambil bekerja di pabrik. Ia memecahkan rekor Ruud van Nistelrooy dengan mencetak gol dalam 11 laga beruntun di Liga Inggris.
- Riyad Mahrez: Winger asal Aljazair yang dibeli dari klub kasta kedua Prancis, Le Havre, hanya seharga sekitar 400 ribu Poundsterling. Ia berhasil menyabet gelar pemain terbaik PFA musim tersebut.
- N’Golo Kante: Gelandang mungil tak kenal lelah yang menjelma menjadi mesin perebut bola terbaik di dunia.
Hari Penentuan di Stamford Bridge
Gelar juara resmi terkunci pada tanggal 2 Mei 2016 tanpa Leicester harus bertanding. Pesaing terdekat mereka, Tottenham Hotspur, hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Chelsea di Stamford Bridge.
Momen gol penyama kedudukan Eden Hazard di menit-menit akhir pertandingan tersebut memastikan takhta Liga Inggris jatuh ke tangan Leicester City. Kota Leicester meledak dalam perayaan riuh, sementara para pemain merayakannya bersama di rumah Jamie Vardy.
Simbol Harapan bagi Klub Semenjana
Keberhasilan Leicester City menjuarai Liga Inggris membuktikan bahwa uang triliunan rupiah milik klub-klub kaya tidak selalu sanggup membeli chemistry, kerja keras, dan tekad baja.
Kisah The Foxes musim 2015/2016 akan selalu dikenang sebagai dongeng terindah yang mengingatkan kita mengapa sepak bola adalah olahraga paling dicintai di muka bumi.
Bagaimana menurutmu?
Apakah kita akan pernah menyaksikan keajaiban serupa dari klub semenjana lagi di era sepak bola modern saat ini? Tulis pendapatmu di kolom komentar!
Baca Juga: [Mitos Kutukan Nomor Punggung 9: Mengapa Striker Top Sering Tumpul?]



