Jika kamu bertanya kepada seorang penggemar sepak bola tentang momen paling mendebarkan yang pernah mereka saksikan, sebagian besar pasti akan menyebut tanggal 13 Mei 2012.
Pada hari itu, pekan terakhir Liga Premier Inggris musim 2011/2012 menyajikan sebuah naskah drama yang bahkan terlalu gila jika ditulis oleh seorang sutradara film Hollywood. Kutukan selama 44 tahun, rivalitas satu kota, keputusasaan di menit akhir, dan sebuah gol penentu di detik-detik kematian.
Semua elemen tersebut berkumpul menjadi satu dalam momen yang kini diabadikan dengan sebuah angka sakral: 93:20. Oleh karena itu, mari kita napak tilas bagaimana Sergio Aguero mengukir sejarah dan meruntuhkan dominasi tetangga mereka yang berisik.
Bayang-bayang Raksasa Sir Alex Ferguson
Sebelum musim tersebut bergulir, Manchester City selalu hidup di bawah bayang-bayang rival sekota mereka, Manchester United. Sir Alex Ferguson, manajer legendaris United, bahkan pernah dengan sinis menyebut City sebagai “Tetangga yang Berisik” (Noisy Neighbors).
Namun, masuknya suntikan dana besar dari Timur Tengah perlahan mengubah peta kekuatan tersebut. Menjelang pekan ke-38 atau pertandingan terakhir musim itu, Manchester City dan Manchester United memiliki poin yang sama persis di puncak klasemen. Akan tetapi, City unggul dalam selisih gol.
Syaratnya sangat sederhana. City hanya perlu menang melawan tim papan bawah, Queens Park Rangers (QPR), di kandang mereka sendiri, Etihad Stadium. Sementara itu, di stadion lain, Manchester United harus berhadapan dengan Sunderland.
Bencana Tiba di Menit ke-66
Pertandingan dimulai sesuai rencana. Manchester City memimpin lebih dulu melalui gol Pablo Zabaleta pada babak pertama. Publik Etihad Stadium mulai bernapas lega.
Namun, memasuki babak kedua, petaka yang tidak masuk akal mulai terjadi. Meskipun QPR harus bermain dengan 10 orang karena Joey Barton mendapat kartu merah, mereka justru berhasil mencetak dua gol balasan melalui Djibril Cisse dan Jamie Mackie.
Pada menit ke-66, skor berubah menjadi 1-2 untuk keunggulan QPR. Di sisi lain lapangan, Manchester United sedang unggul 1-0 atas Sunderland lewat gol Wayne Rooney.
Jika skor ini bertahan hingga peluit panjang berbunyi, maka trofi Liga Inggris akan kembali terbang ke Old Trafford. Kamera televisi menyorot wajah para pendukung Manchester City di tribun. Banyak dari mereka yang menangis tersedu-sedu, sebagian menutupi wajah dengan syal, dan sebagian lagi mulai meninggalkan stadion dengan langkah gontai.
Kutukan “Typical City” atau kebiasaan membuang peluang emas di saat-saat krusial seolah kembali menghantui mereka.
Pahlawan dari Bangku Cadangan dan Tandukan Dzeko

Waktu normal 90 menit telah habis. Wasit keempat mengangkat papan waktu tambahan sebanyak lima menit. Manchester City membutuhkan dua gol dalam waktu lima menit untuk bisa menjadi juara. Secara matematis dan logis, hal itu hampir mustahil terjadi.
Namun, keajaiban pertama muncul pada menit ke-91 lewat 14 detik (91:14). Berawal dari tendangan sudut David Silva, striker jangkung asal Bosnia, Edin Dzeko, melompat paling tinggi dan menyundul bola masuk ke gawang QPR. Skor berubah menjadi imbang 2-2.
Gol Dzeko memompa kembali sisa-sisa harapan yang sudah hampir mati. Suporter yang tadinya menangis kini berdiri dan berteriak memberikan dukungan. Meskipun demikian, hasil imbang tetap tidak cukup. City tetap membutuhkan satu gol tambahan, sementara waktu hanya tersisa kurang dari tiga menit.
Momen 93:20 dan Histeria Martin Tyler
Jam di layar televisi terus berdetak tanpa ampun. Tepat pada menit ke-93, Mario Balotelli menerima bola di depan kotak penalti QPR. Sambil terjatuh akibat tekel bek lawan, Balotelli berhasil menyodorkan bola ke arah ruang kosong di dalam kotak penalti.
Di sanalah Sergio Aguero datang berlari. Ia melakukan satu sentuhan untuk menghindari hadangan bek QPR, Taye Taiwo, sebelum akhirnya melepaskan tembakan keras menggunakan kaki kanannya.
Bola meluncur deras ke sudut dekat gawang Paddy Kenny. Jala gawang bergetar. Waktu tepat menunjukkan angka 93 menit dan 20 detik.
Stadion Etihad seketika meledak. Aguero berlari ke arah sudut lapangan, membuka jerseynya, dan memutar-mutarnya di udara sebelum tertumpuk oleh pelukan seluruh pemain dan staf pelatih City.
Di ruang siar, komentator legendaris Martin Tyler meneriakkan kata-kata yang akan dikenang sepanjang masa: “AGUEROOOOOO! I swear you’ll never see anything like this ever again! So watch it, drink it in!” (Aku bersumpah Anda tidak akan pernah melihat hal seperti ini lagi! Tontonlah, nikmatilah!).
Runtuhnya Tembok Dominasi Old Trafford
Gol Aguero tersebut tidak hanya memenangkan trofi Liga Premier Inggris pertama bagi Manchester City dalam 44 tahun terakhir. Lebih dari itu, gol tersebut adalah simbol pergeseran kekuatan sepak bola di kota Manchester dan juga di seluruh Inggris.
Sejak momen 93:20 tersebut, Manchester City perlahan menjelma menjadi raksasa baru yang mendominasi Liga Inggris dalam satu dekade berikutnya.
Bagi para penikmat sepak bola, momen ini mengajarkan satu hal mutlak: sebuah pertandingan sepak bola tidak akan pernah benar-benar usai sebelum wasit membunyikan peluit panjang.
Bagaimana menurutmu?
Dimana posisimu dan apa reaksimu saat menonton gol Aguero di menit-menit akhir ini secara langsung? Tuliskan kenanganmu di kolom komentar!
Baca Juga: [Johan Cruyff & Total Football: Revolusi Sepak Bola Modern]



