Arsenal ‘The Invincibles’ 2003/2004: Rekor Emas yang Mustahil Dihancurkan

Liga Premier Inggris secara luas diakui sebagai kompetisi sepak bola domestik paling kejam, paling ketat, dan paling kompetitif di muka bumi. Di liga ini, tim juru kunci yang berada di dasar klasemen bisa saja tiba-tiba mengalahkan tim penantang gelar juara di hari yang tidak terduga.

Oleh karena itu, memenangkan trofi Liga Inggris adalah sebuah pencapaian yang sangat sulit. Namun, memenangkan liga tanpa menelan satu pun kekalahan sepanjang musim dianggap sebagai sesuatu yang sepenuhnya mustahil.

Hingga pada musim 2003/2004, sebuah tim asal London Utara datang untuk mematahkan kemustahilan tersebut. Di bawah asuhan manajer jenius Arsene Wenger, skuad Arsenal mencatatkan rekor abadi: 38 pertandingan, 26 kemenangan, 12 hasil imbang, dan Nol Kekalahan. Dunia sepak bola kemudian menjuluki mereka sebagai The Invincibles (Mereka yang Tak Terkalahkan).

Ramalan Gila Arsene Wenger yang Ditertawakan Dunia

Kisah epik ini sebenarnya bermula dari sebuah konferensi pers pada bulan September 2002, satu musim sebelum rekor tersebut tercipta. Saat itu, manajer Arsenal, Arsene Wenger, melontarkan sebuah pernyataan yang sangat berani di hadapan para jurnalis.

Ia berkata, “Bukanlah hal yang mustahil untuk menjalani satu musim penuh tanpa terkalahkan.”

Pernyataan tersebut langsung menjadi bahan tertawaan media Inggris. Para pundit sepak bola menganggap Wenger terlalu arogan dan berkhayal. Terlebih lagi, pada musim 2002/2003 tersebut, performa Arsenal justru merosot dan mereka harus merelakan gelar juara liga direbut oleh rival bebuyutan mereka, Manchester United.

Namun, Wenger tidak pernah menarik kembali ucapannya. Ia tahu persis potensi yang dimiliki oleh skuadnya. Kegagalan di musim sebelumnya justru dijadikan bahan bakar motivasi untuk meracik sebuah mahakarya taktik pada musim 2003/2004.

Tulang Punggung Tim yang Sempurna

Skuad Arsenal pada musim tersebut sering disebut sebagai salah satu tim dengan komposisi paling seimbang dalam sejarah sepak bola. Mereka memiliki perpaduan sempurna antara kekuatan fisik, kecepatan kilat, dan teknik tingkat tinggi.

Di lini depan, Thierry Henry tampil kesetanan. Penyerang asal Prancis ini mencetak 30 gol di liga dan menjadi pemain paling menakutkan di Eropa berkat kemampuannya mencetak gol dari sudut mana pun. Ia didukung oleh visi permainan yang luar biasa dari sang maestro asal Belanda, Dennis Bergkamp.

Di lini tengah, kapten Patrick Vieira menjadi jenderal lapangan yang tidak kenal takut. Bersama Gilberto Silva, mereka membentuk tembok penyaring yang membuat lawan frustrasi. Di sektor sayap, Robert Pires dan Freddie Ljungberg terus-menerus mengiris pertahanan lawan dengan pergerakan tanpa bola yang mematikan.

Sementara itu, di lini belakang, duet Sol Campbell dan Kolo Toure menjadi benteng beton yang melindungi penjaga gawang eksentrik asal Jerman, Jens Lehmann. Formasi 4-4-2 ala Wenger pada musim itu benar-benar bekerja layaknya mesin yang sempurna.

Tragedi Penalti Ruud van Nistelrooy di Old Trafford

Martin Keown berteriak ke arah Ruud van Nistelrooy
sumber Shaun Botterill/Getty Images via manchestereveningnews.co.uk

Meskipun terlihat sempurna di akhir musim, perjalanan The Invincibles nyaris hancur di awal kompetisi. Tepatnya pada pekan keenam, tanggal 21 September 2003, Arsenal bertandang ke markas Manchester United di Old Trafford dalam laga bertajuk The Battle of Old Trafford.

Pertandingan berjalan sangat brutal, keras, dan dipenuhi kartu kuning. Puncaknya terjadi pada menit ke-90+2. Manchester United mendapat hadiah penalti. Striker mematikan, Ruud van Nistelrooy, maju sebagai algojo. Jika bola itu masuk, rekor tak terkalahkan Arsenal akan hancur bahkan sebelum musim benar-benar memanas.

Van Nistelrooy menendang bola dengan keras. Seluruh pendukung Arsenal menahan napas. Namun secara dramatis, bola tersebut membentur mistar gawang dan terpental keluar!

Wasit meniup peluit panjang beberapa detik kemudian. Para pemain Arsenal, dipimpin oleh Martin Keown, langsung melompat dan berteriak di depan wajah Van Nistelrooy. Hasil imbang 0-0 itu menjadi titik balik psikologis terpenting yang menyelamatkan mimpi The Invincibles.

Berpesta di Markas Sang Rival Abadi

Takdir seolah menulis skenario terbaik untuk skuad asuhan Arsene Wenger. Pada tanggal 25 April 2004, Arsenal hanya membutuhkan hasil imbang untuk mengunci gelar juara Liga Premier secara matematis. Hebatnya, pertandingan penentu tersebut harus dimainkan di White Hart Lane, markas dari rival sekota mereka, Tottenham Hotspur.

Arsenal sempat unggul 2-0 di babak pertama melalui gol Patrick Vieira dan Robert Pires. Walaupun Tottenham akhirnya mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2 di penghujung laga, hasil tersebut sudah cukup untuk memastikan gelar juara bagi The Gunners.

Merayakan gelar juara liga di stadion milik rival bebuyutan adalah sebuah penghinaan pamungkas dan kebanggaan terbesar yang tidak akan pernah dilupakan oleh para pendukung Arsenal hingga kiamat tiba.

Trofi Emas yang Belum Sanggup Disamai

Setelah memastikan gelar, Arsenal harus mempertahankan rekor tak terkalahkan mereka di sisa pertandingan. Pada laga penutup musim melawan Leicester City, mereka sempat tertinggal 1-0 terlebih dahulu. Namun, gol dari Thierry Henry dan Patrick Vieira memastikan kemenangan 2-1, sekaligus menyegel rekor 38 laga tanpa kekalahan.

Sebagai bentuk penghormatan atas pencapaian super langka tersebut, pihak Liga Premier memberikan trofi khusus yang terbuat dari emas murni untuk Arsenal. Sepanjang sejarah sepak bola Inggris modern, hanya ada satu trofi emas seperti itu yang pernah dibuat.

Dua dekade telah berlalu. Liga Inggris telah menyaksikan lahirnya tim-tim super dengan kekuatan finansial tanpa batas. Mulai dari Chelsea asuhan Jose Mourinho yang kejam, Manchester City racikan Pep Guardiola yang mendominasi penguasaan bola, hingga Liverpool besutan Jurgen Klopp yang bermain dengan pressing gila-gilaan.

Namun, tidak ada satu pun dari tim-tim super miliaran Poundsterling tersebut yang sanggup menyamai rekor tanpa kekalahan milik Arsenal. Skuad The Invincibles 2003/2004 akan selalu duduk manis di singgasana tertinggi, menertawakan siapa pun yang mencoba menyentuh warisan emas mereka.

Bagaimana menurutmu?

Apakah menurutmu rekor tanpa kekalahan selama satu musim penuh di Liga Premier Inggris akan bisa dipecahkan oleh klub lain di masa depan? Tulis prediksimu di kolom komentar!

Baca Juga: [Skandal Eric Cantona 1995: Tendangan Kungfu yang Mengguncang Liga Inggris]

Tinggalkan komentar